MUARA BUNGO – Proses seleksi atlit cabang pencak silat dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) tingkat Kabupaten Bungo diduga tak netral.
Ozano Akbaron salah satu pelatih menduga adanya kecurangan dalam seleksi perlombaan kategori jurus tunggal putra, Jumat (24/5/2024).
Ozano menduga ketua pertandingan yang dipimpin M. Amin bekerjasama dengan tim juri yang bertugas yakni Agita Armelia, M. Afdholudin dan Ahmad Khaironi.
“Saya menduga mereka telah menentukan pemenang dari awal tanpa memperhatikan hasil dari pertandingan yang sebenarnya ,” ujar Ozano.
Kerena tidak netral, ketua perguruan Sisinga Berantai Al Hikmah ini sudah menyampaikan protes keras terhadap dewan juri. Namun, tidak diterima.
“Kami protes dengan data yang sangat jelas, memiliki video penampilan kedua peserta. Namun upaya protes yang kami ajukan tidak mendapat respon,” ujar Ozano.
Pelatih yang satu – satunya memiliki lisensi nasional di Kabupaten Bungo ini mengaku telah melakukan berbagai upaya protes sesuai aturan.
“Protes pertama kami lakukan secara kekeluargaan sesuai kesepakatan dalam teknikal meeting, namun tidak direspon. Kedua kami ajukan protes dengan meminta blanko protes, juga tidak ditanggapi,” ujarnya.
Selain itu, Zano mengaku juga telah mengajukan agar ada upaya duduk bersama dengan dimediasi Cabor IPSI Kabupaten Bungo juga tidak direspon oleh ketua pertandingan dan wasit juri.
“Kami ingin ada mediasi duduk bersama untuk membedah video penampilan peserta, terutama tentang kebenaran gerak serta kemantapan gerak atlet bertanding, namun juga tidak direspon,” lanjutnya.
Dengan tidak adanya tanggapan dari ketua pertandingan dan wasit juri ini, ia menduga adanya kecenderungan dari ketua pertandingan serta panitia untuk memenangkan salah satu peserta.
“Kalau memang pemenangnya sudah ditentukan dari awal, untuk apa seleksi ini diadakan,” tanyanya.
Kondisi ini tentu saja sangat disayangkan karena hasil dari seleksi ini akan dibawa ke Disparpora Kabupaten Bungo yang mana pemenangnya akan menjadi utusan Bungo di POPDA tingkat Provinsi Jambi 2024.
“Protes yang diajukan ini juga demi nama baik Kabupaten Bungo, karena selama ini pencak silat selalu meraih prestasi di tingkat Provinsi, jangan sampai demi kepentingan sepihak dapat menurunkan prestasi atlet,” katanya.
Dengan adanya kecurangan ini, Ozano juga meminta kepada lembaga wasit juri PB IPSI pusat, lembaga kabupaten dan juga Provinsi agar memberikan sanksi terhadap para juri dan panitia yang tak netral tersebut.
“Jika juri dan panitia seperti ini, maka tidak akan berkembang olahraga di daerah kita. Hal inilah yang kadang membuat Bungo tidak dapat bersaing dengan daerah lain. Karena atlit yang dikirim bukan karena prestasi ,” tutupnya.
Terpisah, M Amin selaku ketua panitia membantah adanya dugaan kecurangan tersebut. Menurutny hal wajar jika ada pihak yang merasa tidak puas.
“Bukannya tidak diterima.
Tapi standing legalnya tidak sesuai. Karena yang berperan sebagai pelatih dan pendamping atlet dari PS Sisinga Berantai bukan saudara Ozano, melainkan Hafiz ,” ujar M Amin.
Saat ditanyakan apakah memang panitia tidak menyedikan blanko protes saat kegitan, M Amin berkhilah bahwa hal itu sudah disepakati pada saat technical meeting.
“Kemaren waktu TM disepakati oleh para pelatih dan pendamping seperti itu. Kebetulan yang hadir dari PS Sisinga Berantai itu adalah ananda Hafiz ,” tutup M Amin.(cr)
























